Posts Tagged ‘Muslim’

Dalam tradisi Islam, ziarah  kubur merupakan bagian dari ritual keagamaan. Seluruh umat Islam di seluruh penjuru dunia telah melakukannya. Pada zaman permulaan Islam berkembang Nabi Muhammad saw melarang kaum muslimin menziarahi kuburan. Larangan ini lantaran kekhawatiran terjadi kesyirikan dan pemujaan terhadap kuburan tersebut. Apalagi bila yang mati itu adalah termasuk orang-orang yang saleh. Di samping itu keimanan para sahabat masih lemah dan membutuhkan pembinaan dari Rasulullah saw.
Peringatan tersebut tidak hanya ditujukan kepada para sahabat saat itu, tetapi juga kepada umat sekarang ini sebagai generasi berikutnya. Ternyata kalau kita perhatikan apa yang dikhawatirkan Rasulullah saw memang terjadi saat ini. Di zaman ini banyak kaum muslimin yang salah dalam menerapkan ziarah kubur. Mereka melakukan ziarah kubur hanya sekedar mengikuti adat dan tradisi daerah. Sehingga syariat Islam bercampur tradisi yang sesat.
Merupakan sebuah kebiasaan di masyarakat Indonesia saat bulan Ramadhan ataupun Idul Fithri berbondong-bondong ziarah kubur (nyekar) yang seolah-olah perbuatan tersebut pada waktu itu lebih utama padahal ziarah kubur bisa dilakukan kapan saja, karena inti dari ziarah kubur adalah untuk mengingat mati agar setiap manusia mempersiapkan bekal dengan amal shalih, jadi bukan kapan dan dimana kita akan mati tapi apa yang sudah kita persiapkan untuk menghadapi kematian jika telah datang maka tidak akan ada yang mampu memajukan atau memundurkannya walau sesaat pun.
Rasulullah saw bersabda :
“Dahulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur (kini) berziarahlah, agar ziarah kubur itu mengingatkanmu untuk berbuat kebajikan.” (HR. Ahmad, hadits shahih)
Melihat realita sering terjadinya penyimpangan dalam ziarah kubur maka perlu bagi kita untuk mengkaji sesungguhnya bagaimana Rasulullah r mengajarkan kita tentang masalah ini, apa saja yang disunnahkan dan hal-hal apa saja yang dilarang.
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Hafidzohullah dalam kitabnya Minhajul Firqoh An Najiyah wa Thaifah al Manshurah menjelaskan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam ziarah kubur, yaitu :

1. Ketika masuk, sunnah menyampaikan salam kepada mereka yang telah meninggal dunia. Rasulullah r mengajarkan kepada para sahabat agar ketika masuk kuburan membaca,
“Semoga keselamatan dicurahkan atasmu wahai para penghuni kubur, dari orang-orang yang beriman dan orang-orang islam. Dan kami, jika Allah menghendaki, akan menyusulmu, aku mohon kepada Allah agar memberikan keselamatan kepada kami dan kamu sekalian (dari siksa)” (HR. Muslim)
2. Tidak duduk di atas kuburan, serta tidak menginjaknya.
Rasulullah r bersabda: “Janganlah kalian shalat (memohon) kepada kuburan dan janganlah kalian duduk di atasnya.” (H.R. Muslim)
Hadits di atas dengan tegas mengisyaratkan akan beberapa kaidah yang diajarkan oleh Nabi saw, diantaranya :
a. Larangan beribadah kepada kuburan.
Diantara kebiasaan umat Islam yang dianggap itu adalah bagian dari ibadah dan cara dalam mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan bertawasul yakni menjadikan perantara antara dirinya dengan   Allah, akan tetapi mereka bertawasul dengan kuburan orang-orang yang sholeh, ini adalah perbuatan yang salah karena telah menyelisihi Nabi saw. Para ulama menjelaskan tentang cara bertawassul yang syar’i, yakni : bertawassul dengan Asmaul Husna, bertawassul dengan meminta bantuan orang-orang sholeh yang masih hidup, dan bertawassul dengan amal shaleh yang pernah kita lakukan.
b. Menjaga adab dalam ziarah kubur
Nabi r melarang keras orang-orang yang berlebih-lebihan dalam ziarah kubur, menangis meronta-ronta di atas kubur (biasa dilakukan oleh kaum wanita maka Nabi r melarang wanita ke kuburan), berjalan di sekitar kuburan dengan menginjak-injaknya serta membuang kotoran di sekitarnya. 

3. Tidak melakukan thawaf sekeliling kuburan dengan niat ber-taqarrub (ibadah). Karena thawaf hanyalah dilakukan di sekeliling ka’bah, Allah Ta’alaa berfirman :
“Dan hendaklah mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah)”. (Q.S. Al Hajj [22] : 29)

4. Tidak membaca Al-Quran di kuburan. Rasulullah saw bersabda : “Janganlah kalian menjadikan rumah kalian sebagai kuburan. Sesungguhnya syetan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surah Al Baqarah.” (HR. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan bahwa kuburan bukanlah tempat membaca Al-Quran, akan tetapi perbanyaklah membaca Al-Quran di rumah karena akan menyelamatkan penghuninya dari gangguan syaetan. Adapun hadits-hadits yang menjelaskan tentang membaca Al-Quran di kuburan adalah tidak shahih.

5.Tidak boleh memohon pertolongan dan bantuan kepada mayit, meskipun dia seorang nabi atau wali, sebab itu termasuk syirik besar. Allah Ta’alaa berfirman :
“Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang demikian), itu, Maka Sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zalim”.
(Q.S. Yunus [10] : 106)
Zalim dalam ayat di atas berarti musyrik karena telah menyandarkan ibadahnya kepada selain Allah Ta’alaa walaupun yang mereka minta pertolongan adalah nabi sekalipun akan tetapi tetap ibadahnya tertolak di hadapan Allah Ta’alaa. 

6. Tidak meletakkan karangan bunga atau menaburkannya di atas kuburan mayit. Karena hal itu menyerupai perbuatan orang-orang Nasrani, serta membuang-buang harta pada hal-hal yang tidak berguna. Adapun riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi r pernah melewati salah satu kuburan dan beliau mendengar si ahli kubur sedang disiksa karena tidak bersih thoharoh dalam hadats maka Nabi mengambil batang pohon yang ada airnya lalu menyiramkannya ke kuburan tersebut. Riwayat ini tidak berlaku umum akan tetapi ini merupakan keistimewaan hanya bagi Nabi saw dan tidak berlaku bagi kita seperti keistimewaan Nabi memiliki istri lebih dari empat maka kita tidak bisa mengikuti Nabi saw.

7. Dilarang membangun di atas kuburan atau menulis sesuatu dari Al-Quran atau syair di atasnya. Dalam sebuah hadits dijelaskan : “Rasulullah saw melarang menembok kuburan, duduk, dan mendirikan bangunan di   atasnya.” (H.R. Muslim, Sunan At Tirmidzi, Sunan An Nasa’i). Keterangan lain juga menyebutkan : “Dan ketahuilah! Sesungguhnya   orang yang terjelek adalah orang yang membuat kuburan sebagai masjid.” (HR. Ahmad/Musnad/1696)
Cukup meletakkan sebuah batu setinggi satu jengkal untuk menandai kuburan, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi r ketika meletakkan sebuah batu di atas kuburan Utsman bin Mazh’un.
Demikianlah beberapa penjelasan seputar masalah ziarah kubur, larangan-larangan yang tidak    diajarkan oleh Nabi r akan tetapi sebagian besar manusia menganggap itu bagian dari ajaran Islam.
wallahu ‘A’lam bis sowab

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.

Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.

Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

(Bersambung)